Kehilangan
Allahuakbar….. Allah memang maha adil!
Saudari-saudari Saya kehilangan beberapa benda berharga dalam waktu yang hampir bersamaan. Salah satunya dompet dan handphone, bahkan laptop. Dalam rangka bermuhasabah, —karena segala kejadian tidak diturunkan Allah secara kebetulan, melainkan karena ada campur tangan Allah dan Allah yang maha mengaturnya agar manusia mengambil sebanyak-banyaknya pelajaran—. Banyak hikmah yang bisa saya ambil dari kejadian ini:
Tentang Peradaban
Saya teringat kembali pada siang itu. Siang ketika saya harus berdiri didepan penguji. Begitu lembar-lembar laporan KP saya di buka satu persatu dengan beberapa kalimat yang digarisbawahi. Penguji kali ini benar-benar berbeda. Satu doa yang saya ucapkan dalam hati pada saat itu, “Semoga saya tidak ‘terkapar’ dibuatnya”. Benar saja, seperti dugaan saya. Mereka seperti memaksa saya berpikir cepat dengan jawaban logis yang juga tepat. Sampai pada satu pertanyaan terpanjang yang akhirnya menguji pemikiran saya selama ini. Pertanyaan yang membuat saya merenungi perjalanan yang saya arungi di dunia.
Pemuda Islam di Fajar Kebangkitan (Sebuah Renungan)
Sejak dulu hingga kini, pemuda adalah pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjiNya.
Menonton Tragedi Negeri
Cukup menggelitik ketika saya menonton tayangan di liputan berita salah satu tv swasta. Masih seputar bencana gempa di Jawa bagian selatan. Dimana Tim SAR yang sedang mengevakuasi korban longsor di Cianjur mengeluhkan banyaknya “pengunjung dadakan” yang datang ke lokasi longsor guna melihat-lihat TKP, karena sedikit banyak,sadar atau tidak ‘pengunjung dadakan’ ini sebenarnya cukup menganggu proses evakuasi korban. Tidak ada inisiatif menolong atau bergerak. Datang berbondong-bondong bersama keluarga dari berbagai wilayah, melihat-lihat, –seperti menyaksikan pertunjukan langka– dan bahkan berfoto-foto ria–naudzubillah–.
Romantisnya Berbalut Surga
Segan ketika saya harus menulis hal seperti ini. Tapi tak mengapa, toh saya hanya menulis apa yang saya serap dan pikirkan. Bahwasanya, ketika mata saya menangkap sekelumit kata . Subhanallah, sungguh, Demi Allah,inilah kalimat paling romantis yang pernah terekam dalam otak saya. Lebih romantis daripada syair-syair William Shakespeare dalam romeo dan julien nya, atau laila majnun-nya Nizami Ganjavi , atau ayat-ayat cinta-nya Habiburahman.
Arrahmah.com Dalam Pandangan Saya
Arrahmah.com merupakan salah satu situs yang menjadi menu harian saya setiap hari. Awalnya saya merasa biasa-biasa saja dengan situs informatif ini. Namun pada minggu-minggu terakhir ini menjadi tak biasa karena situs ini menjadi pemberitaan panas di berbagai liputan televisi.
Rekayasa di balik Redefinisi Makna Jihad
–Dari Abu Hurairah ra, semoga Allah meridhainya, menceritakan: Rasulullah, suatu kali ditanya: Perbuatan baik apa yang sama nilainya dengan Jihad di jalan Allah Swt? Beliau menjawab: Kau tak punya kekuatan untuk melakukan perbuatan itu. Mereka mengulangi pertanyaan itu dua atau tiga kali. Dan Setiap kali pun Rasulullah menjawab: Kau tak punya kekuatan untuk melakukan perbuatan itu. Ketika pertanyaan diajukan untuk ketiga kalinya, beliau menjawab: Orang yang pergi berjihad ialah orang yang berpuasa, menjalankan shalat lima waktu,(mematuhi perintah yang terkandung dalam) ayat-ayat Allah(yaitu dalam Al-Qur’an), dan tidak menunjukkan kelelahan dalam berpuasa dan shalat sampai orang yang berjihad kembali dari jihad di jalan Allah SWT.
–Hadis—
Jihad, Islam, dan Mujahid bukanlah hal baru bagi dunia. Begitu juga terorisme, penculikan, dan pembunuhan. Tetapi, sejak 11 September 2001, istilah ini telah membayang dalam imajinasi publik sebagai fenomena baru. Namun yang membuat miris, istilah-istilah ini kemudian berkelindan tidak sederhana. Dalam kurun waktu satu dekade sejak akhir tahun 2001, oknum-oknum penyusun misi ‘penjahat dunia’ telah berhasil membalikkan makna kata-kata diatas. Fundamentalis,Islam, jihad, dan mujahid telah menjadi ancaman atas keamanan dunia internasional yang harus diwasapadai. Dan rasa takut itu berakar dari fakta bahwa hanya sedikit orang yang benar-benar paham tentang apa itu Islam, tentang Jihad, dan kenapa harus berjihad. Padahal, Menjadi fundamentalis Islam tidak berarti kita mendukung atau terlibat dalam terorisme. Berjihad bukan berarti kita menculik atau membunuh warga sipil.
‘Robohnya’ Sekolah Kami.
Bangunan boleh tetap tegak berdiri. Kokoh. Namun, itu tidak selamanya. Sebentar lagi, bangunan dua sekolah itu akan binasa dihancurkan oleh buldozer bergigi baja. Lihat saja pagar-pagar tinggi nan sombong yang berjajar memisahkan anak-anak sekolah dan sebongkah harapan yang menyertainya.
Menakar Keyakinan Kita atas Pertolongan Allah
Notes notes itu saya baca lagi. Semua sama. Intinya ada pada satu. Menggugat pragmatisme. Ya, pragmatisme rakyat dalam memilih pemimpin dengan penyalahgunaan kaidah ‘memilih yang paling sedikit mudharatnya diantara yang buruk’. Pragmatisme partai politik yang mengaku Islam namun ‘islamiphobia’ sampai-sampai berbicara tentang syariat Islam saja masih ‘pikir-pikir dulu’. “Ahh,,,nanti saja , syariat Islam bisa belakangan, yang penting menang dulu”. Pragmatisme. Pragmatisme.
Santun Terhadap Diri Sendiri
Tulisan ini saya dedikasikan untuk para pengemban dakwah yang tak pernah lelah berjuang di jalan Allah. Dimanapun anda berada. Sungguh sesuatu yang mulia, ketika anda diamanahkan menjadi arsitektur muda dari umat terbaik penegak daulah khilafah rasyidah, yang membangun proyek daulah berdasarkan manhaj nubuwah. Namun disela-sela aktifitas dakwah yang menuntut parhatian lebih, kadang kita lupa untuk mensinkronkannya dengan kondisi jasadiyah. Memenuhi hak tubuh untuk diperhatikan secara proporsional dan konsisten menjadi sesuatu yang terlalaikan sababiyahnya(sebab musabab).
Read more…


..yang meninggalkan jejak..