Demokrasi, masih patutkah di pertahankan?
Baru-baru ini, keberhasilan Indonesia meraih “Medali Demokrasi” menjadi Headline di banyak surat kabar dan media nasional. Medali Demokrasi itu adalah hasil apresiasi dari IAPC (Asosiasi Internasional Konsultan Politik) yang memperjuangkan demokrasi di seluruh dunia. Mereka memberikan penghargaan tersebut atas dasar bahwa Indonesia adalah Negara pertama yang dinilai melakukan proses demokrasi dengan sungguh-sungguh. Ini dibuktikan dengan suksesnya penyelenggaran pemilu 2004 yang mengantarkan SBY menjadi presiden.
Namun, yang perlu digaris bawahi disini adalah pemilu yang demokratis tentu tidak bisa dijadikan ukuran suksesnya sebuah Negara, jika dikaitkan dengan kemakmuran warga negaranya. Bank Dunia menyebutkan bahwa sampai sampai September 2006 terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin hingga mencapai 17,5% dari total penduduk Indonesia atau sekitar 39 juta penduduk.
Hakikat demokrasi sebagai system dibagi dalam dua garis besar. Pertama; kedaulatan rakyat, yang identik dengan jargon “dari rakyat-oleh rakyat-untuk rakyat” itu hanya sekedar teoritis. Faktanya, kedaulatan rakyat sebetulnya hanyalah “lipstick”, di Indonesia sendiri justru yang berdaulat bukanlah rakyat, tetapi para elit wakil rakyat, termasuk elit penguasa yang sering dipengaruhi oleh tekanan dan kepentingan para pemilik modal/Negara-negara asing. Karena itu tidak mengherankan jika banyak UU/keputusan/kebijakan yang merupakan produk DPR/Presiden, namun justru bertentangn dengan kemauan rakyat. Padahal jika dipandang dalam Islam, hanya Allah yang berhak menetapkan hukum ( QS An’am:57) yakni dengan memberikan kewenangan kepada penguasa/khalifah untuk mengadopsi hukum dari Al-Qur’an dan Assunnah, dengan didasarkan pada ijtihad yang benar, karena jika rakyat (manusia) diberi kewenangan penuh untuk membuat hukum (aturan) termasuk membuat hukum yang bertentangan dengan aturan-aturan Allah (syari’ah) maka akan terjadi kerusakan di bumi ini (dan ini terjadi pada system demokrasi).
Kedua; jaminan atas kebebasan umum, yang pertama: Kebebasan beragama, padahal dampak buruk dari kebebasan beragama itu sendiri adalah muncul banyak aliran sesat di Indonesia. Dan pemerintah tidak dapat berbuat apa-apa karena adanya aturan tertulis (hukum) yang melindungi kebebasan beragama. Yang kedua: Kebebasan berperilaku, dan dampak buruknya adalah tersebarluasnya pornoaksi dan pornografi yang memicu pada seks bebas (before married) dan kasus-kasus pelecehan seksual. Yang ketiga : Kebebasan berpendapat, akibatnya muncul ide-ide liberal seperti yang melecehkan Islam padahal mereka adalah orang-orang “bertitel” Islami, namun pola pikirnya liberal. Dan yang ke empat : kebebasan kepemilikan, yang berdampak buruk pada banyaknya SDA yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh individu, swasta dan pihak asing.
Indonesia, negeri yang mayoritas muslim, harusnya malu karena demokrasi yang dipuji oleh banyak pihak justru hanya memproduksi banyak keburukan/kerusakan, apalagi jelas-jelas demokrasi bertentangn dengan hukum Allah (syari’ah). Karena itu, sudah saatnyalah kita mencampakkan demokrasi yang terbukti buruk dan menjadi sumber keburukan. Dan sudah saatnyalah pula kita segera beralih pada aturan-aturan Allah, yakni syari’ah Islam dan menerapkannya secara total dalam seluruh aspek kehidupan.
Wallahu a’lam bi ashshawab….[]


Apakah hukum thogut yg mereka kehendaki?
bener banget tuh… parameter keberhasilan negara bukan terletak pada keberhasilan menyelenggarakan pemilu, pertumbuhan ekonomi makro, iklim investasi, pendapatan per kapita… itu parameter2 tipuan… yg diukur mestinya seberapa makmur rakyat indonesia, seberapa sedikit yg miskin.
tujuan negara kan: memakmurkan, melindungi, dan memelihara. yg diukur adalah keberhasilan dlm pemakmuran, perlindungan, dan pemeliharaan… bukan begitu?
jadi, hancurkan demokrasi, hehehe…
kan kata jusuf kalla, demokrasi itu hanya cara, bukan tujuan…
salam perubahan (baik cepat ataupun perlahan)
salam
tulisan yang menarik. saya hanya ingin menambahkan saja bahwa demokrasi ditegakkan atas darah, perang dan kekerasan. Penyerangan atas vietnam, somalia, afghanistan, irak dan seterusnya, justru atas nama demokrasi.
Yang Anda sebut-sebut sebagai hakikat demokrasi di atas, seperti kedaulatan rakyat dan kebebasan umum, bukanlah dilahirkan dari rahim demokrasi. Patut juga ditambahkan HAM, kebebasan ekspresi dan pendapat (diterjemahkan ke bidang pers), gender, hukum dan seterusnya, juga bukanlah anak demokrasi.
Islam sudah mempunyai rincian, sistematika dan metode. Saya setuju Islam sebagai ideologi. Tapi perjuangannya tidaklah sebentar.
wassalamualaikum.
Apa bener demokrasi adalah solusi. katanya suara rakyat suara Tuhan. tapi pas rakyatnya teriak akibat BBM naik, pemimpinnya tetep tega naikin BBM. yg ada tuh demokrasi anti rakyat bahkan sangat mungkin anti Tuhan. lagian dalam demokrasi seperti kata Sokrates yg penting adalah jumlah kepala bukan isi kepala. maka yg terjadi pemimpin di negara demokrasi adalah pemimpin yg bodoh sekels Bush, Olmert, hingga si bagian nyudonyowo. jadi solusinya bagi saya adalah mirip selebaran GEMA Pembebasan komsat UNESA Surabaya; Cerdas = 100% Anti Demokrasi
Ya g c stuju ama sama omongan penulis..tapi g ga setuju kalo hrs pk syarikat islam..mengapa?? ya kita ngaca aja deh, agama kita( islam) itu agama mayoritas..tapi klo kita lihat (FAKTAnya) ga bisa kita pungkiri masyarakat kita (umat islam) banyak yg ga benernya..padahal mereka tau betul syarikat islam.. bukannya anti dengan agama sendiri..tapi kita ga usah muna-muna.. g lebih setuju hkum, terlebih urusan NEGARA ga usah d dikait2in sama agama..kcuali kl agamanya 100% bener,,tp nyatanya ga ad kan..
kebetulan g punya banyak temen dr agama lain, g pernah ikutin jg keagamaan mereka..smua bgus kok, ga ad yg salah..bahkan ada be2rp dari agama mereka yg lebih msuk logika drpd agama g sendiri..
misalnya, org buddha mengajarkan umatnya itu belas kasih (perbuatan)
org katolik mengajarkan cinta kasih “cintailah musuhmu”
dll..
1 hal yg plg ga g mengerti mengapa Hanya agama g, agama Islam yg selalu ada ajah masalahnya.. Dulu Greja di bakar2in sama org kita, dulu warga tionghoa (mayoritas budda) di kenain sama kita2 juga..memang kita bisa berkelit kl itu cuma segelintir org yg melakukan, tapi knp cuma segelintir itu doank ga bisa kita ajarkan…pertanyaannya, apakah kita msih bisa mengatakan bahwa hukum syariaat kita yg terbaik??
jadi intinya ya jganlah kita gabung2kan agama ke dalam negara..toh agama kita sendiri bisa dibilang hancur di mata dunia..jadi jangalah tambah hancur dengan kemunafikan kita..
Peace n Keep Moving..wassalamualaikum.