Oleh: salam revolusi | Desember 21, 2007

Moga Bunda di Sayang Allah ( Catatan Sejuta Cinta Untuk Bunda yang Belum Sempat Terukir)

Allah, Kau Ingatkan aku, Tentang satu rindu
Di masa yang lalu
Saat mimpi masih,hinggap bersamamu
Terbayang satu wajah
Penuh cinta, Penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Ooohhh, Ibu
Allah, Ijinkalah aku
Bahagiakan dia
Meski dia telah jauh
Biarkan lah aku, berarti untuk dirinya
(Satu Rindu, Opick feat Amanda)

Bunda, bagaimana kabarmu hari ini? Sehatkah engkau di sana? Aku tidak tahu bunda, kenapa aku bisa menangis tersedu ketika ku dengar potongan lagu ini. Aku juga tidak tahu kenapa sampai bangun tidur pun aku masih sesegukan sisa tangis tadi malam. Apakah karena besok 22 desember hari ibu? Atau karena lusanya aku genap berusia 18 tahun? Atau karena aku ingin kau memelukku di saat aku kedinginan di kamar kosku?…

Bunda aku merindukanmu….
Saat ku sadar aku tak akan mampu untuk membalas air susu yang mengalir dalam darah dan menjadi daging dalam tubuhku. Saat ku sadar ternyata ada sejuta cinta yang ingin ku berikan ke padamu, tapi apa yang ingin ku berikan? Aku tidak tahu bunda. Bisakah aku memberikanmu tiket ke surga kelak?

Bunda, saat aku pulang ke rumah menjelang lebaran kemarin, aku menangis di dalam hati melihat kerutan wajahmu bertambah, garis-garis kelelahan akan perjuangan di dunia semakin mempertegas dirimu. Namun, ada satu yang tak pernah hilang, kenapa bias-bias kehangatan dalam matamu tidak pernah lepas sekalipun engkau melewati kerasnya batu karang dunia. Kenapa bias-bias cahaya wajahmu tidak pernah padam untuk bersinar? Padahal aku tahu engkau hanya tidur dua jam sehari setelah seharian berkutat di depan mesin jahit tua peninggalan ayah dulu.

Bunda, aku tahu engkau sengaja tak ingin tidur demi membelikan aku dan adik sepotong baju baru. Membelikan kami kue-kue lebaran hanya untuk agar kami tak malu jika teman-teman kami dan para kolega datang berkunjung.

Bunda, saat ku dengar di sepertiga malam mesin jahit tua itu tidak berbunyi, aku tahu engkau sengaja dengan “terpaksa” tidur memejamkan matamu sebagai syarat untuk mengahadap Allah lewat wudhu dan tahajudmu.

Bunda, aku ingin segera pulang menemani dirimu untuk membuat pola jahitan , membantumu memasukkan benang dalam lubang jarum, dan memijat kakimu dengan air hangat saat asam uratmu kambuh, Yang membuatmu lelah, penat dan sakit pada sendi-sendi tubuhmu.

Bunda, aku yakin Allah mencintai bunda. Aku yakin Allah menyayangi Bunda. Karena Bunda pantas berdiri di barisan orang-orang yang mendapat anugerah lailatulqadar, yang nilainya tak terhitung sampai seribu bulan.

(…Bandung, 211207, saat hujan membuat diriku menggigil dan menangis…)


Tanggapan

  1. Ibu, ibu, ibu …. sosok yang harus kita kasihi
    baru setelah itu .. ayah, dan yang lainnya lagi
    jangan sampai beliau-beliau tersakiti
    sorga di bawah telapak kaki ibu … pasti

  2. dek, jangan nangis donk!!….kk jadi sedih juga inget ibu kk…..hurm, moga Allah mempertemukan kita kelak…moga kk bisa ke kalimantan :P
    moga ja da rejeki kesana….ato bandung barangkali??rencana taon depan, klo thesis gda masalah….hehehee…
    kecil2 udah bisa jadi murabbiah nya kk nie….


Beri tanggapan

Your response:

Kategori