Sesuai dengan judul di atas, ini bukan fitnah yaa. Atau sengaja ingin “menyindir” ikhwan( laki-laki) secara umum. Namun ini sebatas uneg2 saya yang saya dapat faktanya di lapangan. Sebenarnya sudah cukup lama, tetapi baru bisa saya ungkapkan sekarang. Yup, ini mengenai fenomena yang terjadi pada ikhwan secara umum. Di sini saya menyebut laki-laki dengan ikhwan karena sebutan itu yang lebih nyaman dan akrab di telinga saya.
Fenomena apa itu? Yupp, fenomena aneh saya rasa. Beberapa waktu lalu saya sempat pulang ke Kalimantan dan menginap beberapa hari di rumah paman saya (adik kandung laki2 ibu yang paling bungsu). Si paman yang notabene ikhwan, yaa kalo untuk ukuran paman saya sih tergolong masih muda. Soalnya beliau mahasiswa tingkat akhir di sebuah universitas swasta di Samarinda. Ahhh, sudahlah, bukan sosok paman saya yang ingin saya bahas. Tapi kebiasaannya itu lohhh, bikin saya geleng2 kepala. Di meja belajarnya bersusun produk2 perawatan kulit yang menurut saya lebih pantas untuk konsumsi akhwat. Sebut saja, mulai dari hand and body lotion, whitening soap, facial foam, facial scrub, pelembab wajah, kapas kecantikan, krim malam, krim siang, bahkan….lulur mandi…. Berjejer denga rapih. Mungkin untuk sebatas parfum saya masih bisa maklum. Ini pun gara2 adik laki2 saya yang masih kelas 6 SD, udah mulai mengoleksi parfum GATSBY….halahhh….walaupun produk untuk laki2, tapi bau parfumnya itu loohh, bikin kepala saya puyeng saking menyengatnya. Apalagi adik saya selalu memakainya ketika habis mandi, mau sekolah, mau ngaji di TPA, mau sholat di masjid, atao mau les. Kadang2 saya protes, “kamu ini mau ngaji apa mau tebar pesona sich, dek?” ehhh, si adek malah nyengir mesem2 ninggalin saya yang melongo gak di kasih jawaban. Sewaktu itu pun saya berniat beliin adik saya parfum jumaatan wangi zaitun melati yang non alcohol. Ehhh, reaksinya malah menolak. Katanya selain kurang gaul, itu kan parfum buat juma’tan. Jadi yaa di pake sebelum sholat jumat ajahhh…nah lhooo…
Kembali ke awal tentang paman saya, saya langsung lapor sama nenek yang lagi nyiapin makan siang. Pertama saya masih ber husnu’udzon ( berprasangka baik) bahwa itu bukan milik paman. Mungkin punya siapa gitu, atau mungkin punya nenek??? Tapi gak mungkin, lebih gak mungkin lagi karena di rumah itu gak ada perempuan lain lagi selain nenek. Coz, sodara2 perempuan paman( termasuk ibu saya) udah menikah semua en ikut suami masing2. Ketika saya tanya begitu ke nenek, beliau cuma tertawa..” iya, itu memang benar punya paman.” Haaahhh…gedubrakkkk….
Saya pun jadi mendadak pusing. Apa2an ini? Paman yang notabene ikhwan tulen, berbadan kekar, pokoknya cowok banget dehhh, malah ngikutin Kebiasaan akhwat ( sebutan bagi perempuan) yang di tiru ikhwan, atau apakah ini yang di sebut tanda2 kiamat “laki2 menyerupai wanita”? astagfirullah…
Tak lama ketika paman sudah pulang ke rumah dari kampus ikut bimbingan skripsi dengan dosen, langsung dehh saya todong dengan beribu pertanyaan. Yaah, si paman Cuma cengengesan ajah sambil bilang “anak kecil kan blom ngerti.” Wahhh, payah niy…
Dulu saya pernah belajar biologi en dapet juga di internet, tentang bahan2 berbahaya yang terdapat pada kosmetik dan lotion yang bisa meyebabkan kanker kulit yang beredar di pasaran. Masalahnya bukan hanya berbahaya, tetapi juga masalah halal haramnya. Soalnya ada beberapa kosmetik dan lotion yang di buat dari organ tubuh manusia seperti ari2 bayi, rahim, air ketuban, plasenta manusia, lemak…de-el-el. Untuk parfum pun kan banyak yang mengandung alcohol, atau bahkan formalin.
Rupanya kebingungan saya terbaca juga oleh paman, akhirnya dia mau menjelaskan duduk perkaranya. Sebagai seorang ikhwan yang juga katif dalam kegiatan dakwah, paman membenarkan pilihannya itu dengan alasan untuk menjaga kebersihan, kerapian, atau bahkan imej sebagai seorang pengemban dakwah. Yang pada mau menebar kemaksiatan aja penampilannya oke. Masak kita sebagai agent of change untuk menebar kebaikan penampilannya malah kucel-kucelan, yaaa mana ada orang yang mau ikut kita. Bukankah penampilan juga perlu? Rasulullah kan juga senatiasa menjaga kebersihan dan kerapihan…
Saya langsung menyela,”bagaimana masalah halal haramya, paman ngerti kan?”. Sejauh ini paman emang belom pernah membaca dan mendengar fatwa ulama yang mengharamkan produk2 tersebut. Baik yang biasa atau yang plus whitening en embel2nya. Yang pasti bukankah hukum asalnya mubah? Mengenai bahan2 yang berbahaya seperti merkuri, kolagen, alcohol, formalin, bahkan yang menggunakan organ tubuh manusia, nahh, itu kembali kepada ketelitian kita sebelum membeli. Banyak juga koq produk2 yang aman, jangan asal pakai.
Trusss kalo niatnya kepengen kulit cantik,putih, bersih, halus bukankah itu menyerupai wanita? Bagaimana kalo misalnya niatnya untuk menarik perhatian lawan jenis? Atau mungkin tidak berniat tetapi secara tak sengaja membuat seorang akhwat tertarik?
“Yaaah, itu kan kembali pada niat2 masing. Kalo pun begitu kenyataannya, kan bisa di minimalisir…” kata paman sambil nyengirrr..
Huuuhhh, saya berasa “Polos” dehhh, soalnya pake lotion juga gak pernah, itu pun sewaktu pertama kali di Bandung karena kulit tiba2 saja kering dan mengerut. Apalagi yang lebih daripada itu, wahh..wahhh….





kayaknya pernah baca ini deh…tapi dimana yah? dah 2 taon kayaknya..kalo gak salah
Oleh: almanfaluthi on Desember 29, 2007
at 19:35
rupanya, ikhwan ini adalah termasuk ikhwan yang “cantik”, bukan ikhwan yang “ganteng”
Oleh: Arief Rachmansyah on Desember 30, 2007
at 19:35
ikhwan yang mana yah?
Oleh: aRuL on Desember 30, 2007
at 19:35
gak semua ikhwan seperti itu, tapi tdk menutup kemungkinan ada yg berpenampilan begitu. wangi, rapi jali, dan bawa sisir kemana aja. toh bagi saya gak masalah, selera akhwat kan beda2 (uuups). emang ada ikhwan yg mengindikasikan dirinya bak Fahri (tokoh utama Ayat2 Cinta). tapi klo saya sih gak nahan tampil gituan, yg penting aurat ketutup beres (maksudnya pake celana panjang apapun + kaos cukup), gak perlu wangi sih gak papa (asal teratur mandi). bagi saya sih penampilan no 2 yg penting pola pikir n pola sikap (syaksiyah Islam). gitu, mirip2 Michael Scofield (Prison Break) juga gak papa asal jadi pelopor dalam dakwah Islam
Oleh: burjo on Januari 3, 2008
at 19:35
Ah, gitu aja dipersoalkan. Gak ada hal yang lebih penting untuk dibahas? Plis deh… Katanya mau revolusi?
Terserah si laki-laki (saya lebih suka menyebut itu daripada ikhwan, lebih ngIndonesia gitu) mau pakai atau tidak. Yah, itung-itung merawat pemberian Allah.
Oleh: tiyokpras on Januari 5, 2008
at 19:35
Ngakunya pejuang Islam kok bicaranya gak hikmah… kena virus Bandung neh… ayo segera obati pemahaman agamamu dek…..
Oleh: pelanggar on Januari 6, 2008
at 19:35
pertanyaan di atas hampir sama dengan pertanyaan seorang ikhwan tentang Akhwat kok BB?
Oleh: julfan on Januari 12, 2008
at 19:35
Persolan sepele gitu kok di ributin!
Muslim yang kurang beruntung (fakir-miskin) malah sering kita lupakan..
Dah biarin aja, tidak ada hadits yang melarang ikhwan ga boleh pake lotion ini. itu kan persoalan muamalah, yang membatasi hanyalah norma yang dibuat manusia. enak atau tidak enak dilihatnya.
Gitu aja kok repot!!!!!!!
Oleh: Kay on Januari 14, 2008
at 19:35
ada tuh kenalan gw.. kerjaanya ngemsi sama presenter
bawaanya ditas kuliah ada tas kecil isinya alas bedak, bedak compact, maskara, blush on, sama lip glos
tapi sangat malu kalo ada temen lain tau dia punya peralatan ini, bahkan marah tas kecil ini dibuka buka
kebutuhan dia sih sewaktu waktu bukan tiap waktu
kalo gw cukup deh sabun, odol, sampho dan parfum
sama body lotion dikit biar bis bangun tidur wangi
sekarang bersih tidak cuma mandi kan.. wangi dan rapi ikut serta juga
Oleh: bom on September 5, 2008
at 19:35