Ibu, bener gak barang2 pada mahal?” tanyaku pada ibu yang pagi itu terlihat lesu.
“iya nak, cabai mahal, beras mahal, tempe mahal, bawang mahal, gula mahal, minyak goreng mahal, semuanya mahal nak. harga2 pokok naik, tarif listrik pun ikut naik, semuanya naik! Nanti ibu masak makanan untuk kalian, tapi jangan mengeluh ya. Yang penting halal, dan ini juga rezeki yang datang dari Allah. “ kata ibu sembari mengelus kepalaku.
“Ya Allah, aku percaya ini adalah ujian untuk kami. Untuk mengukur seberapa jauh rasa syukur kami. Untuk mengukur seberapa banyak keluhan2 yang keluar dari mulut kami, yang menandakan kami tidak bersyukur. Tapi ya Allah, cukupkanlah rezeki kami. Cukupkanlah makanan yang masuk ke perut ini adalah makanan yang thoyib lagi halal. “ ku dengar ibu berkata lirih padaku….
Beberapa saat kemudian, tepat di saat adzan maghrib berkumandang, Ibu sudah selesai memasak, kemudian memanggil aku dan adikku. Kami pun berbuka shaum sunnah bersama-sama.
” Anak-anakku, bukalah makanan yang ada di dalam tudung itu. Janganlah mengeluh dengan rezeki yang Allah beri untuk kita.”
Adikku yang membuka tudung makanan itu terlebih dahulu, segera iya berucap hamdallah. Mungkin itu makanan paling sederhana yang pernah ibu buat , singkong bakar dengan kuah kaldu. Namun, jujur dalam hati kami, itulah makanan ternikmat yang pernah kami makan sekeluarga. Yang pasti nikmat syukurlah yang paling mendominasi, nikmat iman yang pasrah dan ikhlas, yang membuat rasa makanan ini paling lezat sedunia. Dan yang pasti tak lupa dan yang paling utama, adalah bumbu cinta kasih dari Ibu yang ikhlas dan penuh syukur memasak makanan ini. Sehingga ini menjadi pengalaman pertamaku makan dengan makanan yang paling nikmat, dengan suasana paling khidmat. Alhamdulillah…..
“…Makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al An’aam : 142)





ok
Oleh: albirrudesign on Maret 26, 2008
at 19:35
subhanAllah…..begitu parah yah dek kasus kemiskinan di Indonesia…apa hidup para pengemban dakwah kebanyakan demikian??
Oleh: amee on Maret 26, 2008
at 19:35
Alhamdulillah.
Ternyata kita selama ini lupa bersyukur, betapa banyak nikmat Allah yang kita lupakan.
Terima kasih telah mengingatkan.
Oleh: julfan on Maret 27, 2008
at 19:35
Nikmat Allah memang tidak terhitung. Tapi, sering gara2 masalah kecil, nikmatnya terlupakan sehingga mudah mengeluh. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang bersyukur.
Oleh: riza on Maret 27, 2008
at 19:35
Qonaah, bersyukur dengan yang ada, ternyata tidak mudah.
Semua harga naik, demikian kenyataan yang terkadang
terucap termasuk oleh istriku tersayang,…
Bersabarlah, yang kita terima saat ini masih lebih baik
dibandingkan saudara-saudara kita di tempat lain
Semoga kita termasuk gol hambaNYA yang pandai menyukuri nikmatNYA
Oleh: kakanda on Maret 27, 2008
at 19:35
Makanan ternikmat adalah, Yang utama: Halal, dan Disyukuri..
PASTI!!!
Oleh: indra1082 on Maret 27, 2008
at 19:35
utamanya bersYukur!!!!!
Oleh: aiyi on April 2, 2008
at 19:35
memang Allah sedang menguji kita, seberapa jauh kita sabar dalam ujian-Nya. dan perlu kita ingat sudah sangat amat banyak nikmat Allah yang dilimpahkan pada kita dibanding dengan ujian yang diberikan_Nya.
Oleh: Ridha on April 6, 2008
at 19:35
Subhanallah,,,
Semoga Allah SWT selalu melapangkan orang-orang yang teraniaya akibat harga kebutuhan pokok melonjak tajam.
Makanan nikmat bukanlah makanan yang mahal dan enak, tapi adalah makanan yang apabila kita memakannya kita selalu merasa bersyukur kepada-Nya tanpa keluh dan kesah walau hanya singkong bakar atau hanya sekedar nasi.
Oleh: hanur on April 8, 2008
at 19:35