“Wow…keren juga ya Mbak, mukenanya yang warna pink itu!” komentar seorang teman saya yang duduk di belakang.
“iya, pasti harganya mahal banget yahh, bisa jutaan rupiah.” Komentar seorang wanita di sebelahnya ikut menimpali.
Saya lihat di atas pentas beberapa model bertubuh tinggi semampai berlenggak-lenggok di atas catwalk memeragakan puluhan mukena dengan warna off white, broken white, gold, pink, bahkan biru muda dengan ukiran bordir-bordir dan payet yang terlihat mewah. Di tambah lagi dengan sulam, renda bahkan tempelan bebatuan yang membuat mukena-mukena itu terlihat wahh.
Ini memang bukan pertama kali saya menyaksikan sebuah rumah mode menampilkan mukena sebagai salah satu produk fashionnya. Jika sekarang mukena yang biasanya kita pakai berwarna putih sederhana, kini yang saya lihat di atas catwalk itu justru sebaliknya. Mukena berwarna-warni dan terkesan wahh dengan tas cantik tempat sejadah.
Saya jadi teringat dengan sebuah tulisan di sebuah blog yang di tulis oleh seorang muallaf wanita. Kisah perjalanan seorang Nasrani yang tertarik dan memeluk Islam justru karena kharisma dan pesona mukena putih yang sederhana. Ia tertarik dengan cara umat Muslim saat melaksanakan ibadah sholat. Islam tidak membeda-bedakan orang berdasarkan kekayaan dan kedudukan. Pada saat sholat jamaah di masjid, semua dalam derajat yang sama, terutama di mata Allah. Dalam balutan mukena putih, yang sama, tidak ada perbedaan antara yang kaya dan yang miskin. Berbeda ketika ia ke gereja, saat di gereja orang-orang berlomba memakai pakaian terbaik, tampil gaya dan menunjukkan status sosial. Sehingga ketika duduk, jangan harap si miskin dapat bersebelahan dengan yang kaya. Begitu jelas status yang membedakan letak duduk seseorang.
Saya pun segera menyadari, saat menatap mukena dari bahan sifon organdi atau sifon sutera itu, saya terngiang ucapan sang muallaf. Apa komentar beliau nanti?. Bahwa malam itu saya melihat mukena telah masuk ke dunia fashion show. di peragakan oleh model-model cantik. Akankah esok, saat kita bersimpuh di masjid, mukena dari kain sutera itu teronggok sombong di antara para jamaah?. Karena penasaran, saya cari tahu harga mukena tersebut. “ satu sampai tiga jutaan, Mbak,” ujar seorang staf rumah mode tersebut. Masya Allah, saya langsung terbayang dengan masjid dan mushola-mushola di tempat umum yang selalu menyediakan mukena yang kusam, kumal, dekil, lusuh, jelek atau apapun sejenisnya. Sehingga apabila terbiasa memakai mukena seperti itu, kita akan terpaksa melakukan sholat karena lupa membawa mukena, dan dengan jijik memakai mukena tersebut. Jangan bayangkan baunya, atau bahannya yang kasar dengan warna yang nyaris kecokelatan karena dekil.
Seandainya mereka yang punya uang itu tidak membeli sehelai mukena seharga tiga juta. Andaikan saja uangnya untuk membeli puluhan mukena putih sederhana yang di letakkan di masjid. Subhanallah, saya membayangkan puluhan malaikat ikut berzikir mendoakan si penderma saat mukena tersebut di pakai orang-orang sholat.
Saat saya diskusikan hal ini ke teman saya, saya langsung di ceramahi oleh dia,” Maksudmu apa?, tidak setuju dengan mukena yang cantik dan harganya yang cantik itu? Dasar mental orang miskin, apa-apa di ukur pakai kacamata orang melarat. Lha kalo orang kaya tuhh maunya serba mewah, dan serba berkelas. Daripada di pakai buat beli berlian melulu, kan lebih baik beli mukena untuk menghadap Allah. Islam kan mencintai keindahan…”
“ini bukan keindahan, ini kemewahan, bukankah khwatir riya(sombong)?”, gerutu saya dalam hati.
Benarkah shalat dengan mukena mewah itu akan lebih khusyuk? Benarkah Allah akan menerima amalan sholat seseorang yang memakai mukena seharga tiga juta ketimbang yang memakai mukena sederhana? Saya kembali di ingatkan sewaktu di kampung halaman, saat sholat id semua orang berbondong-bondong menuju lapangan dengan memakai busana terbaik, baru atupun lama namun semua tampil sangat indah. Saat menggelar sajadah, warna-warni keindahan mukena itu lenyap serentak. Terganti dengan lautan mukena putih sederhana membungkus jamaah wanita dalam kesahajaan warna yang putih suci, dengan mukena-mukena bersih yang memancarkan wajah-wajah tulus bersinar.
Bebrapa waktu lalu, saya sempat mengikuti acara Rihlah yang di adakan oleh LDK di kampus saya. Acara ini berbentuk wisata alam di sebuah kawasan air terjun. Bersama teman- teman yang lain kami mendirikan sholat di sebuah batu. Berbalut mukena sederhana dari bahan parasit tipis namun tidak transparan yang harganya tidak sampai 50 ribu rupiah. Namun sholat terasa begitu nikmat, khusyuk dalam munajat yang di iringi simponi gemericik air terjun dan kicauan burung. Sungguh itu sholat terkhusyu yang pernah saya lakukan.
Dan dengan mukena seharga tiga juta itu, rasanya tidak mungkin shalat sembarangan di atas batu, karena takut kotor, basah ataupun takut payet-payetnya nyangkut di permukaan batu yang kasar. Dengan mukena itu pula, rasanya agak susah mengikhlaskan apabila di pinjamkan kepada jamaah lain yang lupa membawa mukena, sebab sehabis sholat takut di gondol dan di bawa kabur. Atau saat memakai mukena tersebut kita jadi sibuk membanding-bandingkan dengan mukena orang lain yang jangan-jangan lebih bagus dan lebih mahal di banding yang kita pakai.
” Tidak apa-apa beli mukena seperti itu, asalkan pakai di rumah saja. Jangan pakai di masjid atau di temapt umum karena takut riya.” Saran teman saya menutup diskusi kami. Mungkin begitu lebih baik. Maafkan saya yang menggugat mukena-mukena mewah yang tampil di atas catwalk itu. Cukuplah sudah busana muslim saja yang telah bermetamorfosis menjadi produk bisnis. Tidak usah di tambah dengan mukena yang sakral itu. Biarlah kesederhanaanya menjadi bahasa penyatuan ketika menghadapNya.
Ya Allah, kalau begitu biarlah saya sholat dalam kesederhanaan mukena putih. Sebab saya takut hati saya akan ikut tercelup dengan warnanya. Jadi Ya Allah, jika ada rezeki, tak usahlah Kau beri hamba mukena mahal berbahan sutera. Cukup kau mudahkan jalan ku menuju Rumah -Mu di Baitullah. Berbaris dalam pakaian ihram yang juga putih dan seragam.





setuju….
tapi …padahal kita bikin mukena buah, mukena lukis trus yang bordir ….
gimana nih..?
buat konsumen albiru moga mukena albirru jangan di jadikan riya’, kan harganya cuma murah tuhh…. rukuh anak strowberry cuma 60 ribuan lebih dikit dari 50 ribu, rukuh lukis cuma 50 ribuan ….
jaga niat kita dehh…
Oleh: albirru on April 11, 2008
at 19:35
iyaaapphh… setuju banget. buat apa ya beli mukena mahal2? Terkadang suka miris deh… Kita bisa beli mukena yang harganya berjuta-juta, tapi kalo menyumbang di masjid sepuluh ribu aja kok ya rasanya beraaaaaat banget???
Oleh: CallMeKimi on April 11, 2008
at 19:35
Saya punya cita-cita nih :
Ingin ke baitullah tahun depan.
doakan ya
Oleh: julfan on April 11, 2008
at 19:35
Sebaiknya yang “sederhana”, tidak bercorak, tidak mengganggu konsentrasi, dan juga memperhatikan kepekaan terhadap sensitifitas sosial
Oleh: kakanda on April 11, 2008
at 19:35
Assalaamu’alaykum..
Saya mau cb kasi komen dr sisi lain (misalnya saya yg memakai pakaian mahal itu ketika solat d masjid)
Apa salah kl saya bermewah2 dan menghias diri ketika saya menghadap Tuhan yg telah menciptakan saya dan memberi saya segala2nya? Apa iya kl yg demikian itu lantas dikatakan sombong? Apa antum bs liat hati & niat seseorang dr pakaian? Kl antum berpendapat demikian bs saja saja bilang bgini kpada orang yg berpakaian murah ktika solat “dasar orang pelit! dikasi rezeki lebih sama Allah tp kok ketika menghadap Allah pakai pakaian yg murah!”
jd kl mnurut saya biarin aj deh orang lain dengan pakaiannya & qt dgn apa yg qt pakai. Bagimu amalanmu & bagiku amalanku. Dlm Al Quran Allah memerintahkan qt untk berpakaian yg indah ketika memasuki masjid, dan kl pakaian yg indah itu harus dibeli dgn harga mahal sedang Allah memberi Rezeki yg cukup. So what? Inget.. Antum g blh menilai hati dan niat seseorang cm dr luarnya karna sebagian dr prangsangka itu dosa.
Wallaahu a’lam bi ash-shawaab.
Oleh: giel.cool on April 11, 2008
at 19:35
Eh ada yg lupa… Dr argumen saya diatas saya tambahkan: pakaian blh mahal & mewah tp tentunya selama tidak bertentangan dgn syariat, misalnya laki2 tdk blh pakai sutera, laki2 tidak blh menyerupai wanita, aurat harus tertutup, tidak transparan, dll, dll
Oleh: giel.cool on April 11, 2008
at 19:35
Ya. Fungsi mukena adalah untuk mendekatkan diri pada Allah. Allah tidak akan melihat pakaian yang kita kenakan.
Artikel ini saya link di blog saya.
Oleh: Mardies on April 11, 2008
at 19:35
To Mardies : Sapa bilang Allah g melihat pakaian yg qt pakai?! Bahkan sampai celana dalam yg antum pakai jg Allah liat ko. Tinggal gmn niat antum aj dlm berpakaian. Antum mau pamer atw mau menunjukan sikap penghormatan, pengagungan, penyembahan antum terhadap Zat yg maha Berkuasa atas segala2nya (Allah), dan antum bener2 ingin tampil sebaik mungkin di hadapanNya.
Apa salah ya kl seseorang tampil baik, rapi, mewah, mahal, ketika menghadap Sang Pemberi Rizki. Toh apa yg qt punya saat ini smuanya hanya milikNya.
Inget tum, orang miskin maupun kaya semua berpeluang sama dlm mengabdi kpd Allah. Analoginya gini : antum punya rezeki lebih 10rb, trus antum infaqin 5rb. Sedangkan sy punya rezeki lebih 1jt trus sy infaqin jg 5rb. Apa pahalanya sama?? Demikian jg dlm hal berpakaian yg indah ketika sholat.
Wallaahu a’lam.. Wallaahu a’lam.. Wallaahu a’lam..
Bukan saya bermaksud menganjurkan untk bermewah2 ketika solat, hanya sy berusaha mencegah prangsa buruk dr antum sekalian yg mengutamakan kesederhanaan bahwasanya bermewah2 ketika solat berarti sombong,pamer,riya,dll.
Segalanya hanya milik Allah.. Dan Allah yg maha mengetahui segala2nya tanpa terkecuali, Termasuk isi hati qt.
Ingatkan saya kl ada pendapat sy yg salah..
Smoga Allah mengampuni sy kl sy salah. Aamiiiin…
Oleh: giel.cool on April 13, 2008
at 19:35
Sedikit renungan :
kl qt perhatiin, liat deh pakaian2 orang Islam disaat dia menghadiri acara walimah, di kantor (apalagi ketika rapat dgn atasan), dsaat berkunjung k rmh saudara ketika idul fitri, disaat harus berhadapan dgn orang2 terhormat. Ga jarang ko yg pakaiannya buagus2 & muahal2, padahal yg mereka hadapi hanyalah makhluk. Tp pas menghadap Allah…?? Pas2an..
Sekarang saya cb bertanya sama yg nulis artikel ini.. Seandainya antum sedang berpakaian bagus & mahal (misalnya ketika menghadiri resepsi pernikahan) lalu di jalan antum berpapasan dgn pemulung yg pakaiannya amburadul, kucel, sobek2, bau, dll. Apa antum tau apa pikiran atw isi hati pemulung itu ttg antum???
apapun jwbn antum, toh penilaian itu hanya terjadi antara mahluk dgn mahluk. Dan ketika qt solat yg menilai qt bukan mahluk. Dan mungkin suatu saat apa yg antum bilang mahal akan jd barang murah ko
buat yg punya blog, kasi komen donk ^_^
Oleh: giel.cool on April 13, 2008
at 19:35
Assalamu’alaikum….
boleh za,tapi apa niatnya udah benar???gimana kalau sampai salah niat??misalnya sampai timbul penyakit riya’….
astagfirullah,..jangan sampai….apalagi dengan adanya hal itu malah membuat setiap orang mnjadi salah sangka atau malah berprasangka buruk,…
dari lubuk hati,…coba diklarifikasi//>>>??
syukron…
….Wassalamu’alaikum
Oleh: Blue_sor@ on April 17, 2008
at 19:35
Jauh sebelum itu terjadi. Sebenarnya sekarang Islam sudah mengalami metamorfosa. Itu hanya sepersekian kasus kecil yang terlihat sehari-hari. Belum kasus yang lainnya. Islam adalah agama bisnis. Begitulah yang dikatakan para pakar humaniora dalam diskusi universitas di Iran. Kenapa? karena Islam telah menjadi ajang untuk menunjukkan ekslusivitas berupa materi, bukan esensi. Serba instans, dan tentu semua itu ada gantinya secara finansial.
Mukena mewah, Koko jutaan rupiah, itu hanya busana. Bandingkan dengan Pildacil, dll. Sebuah pemilihan da’i, ustad, hingga grup nasyid. Terkontaminasi oleh hedonisme. Mereka berislam secara kaffah bukan karena ajaran yang welas asih nan sederhana, rahmatan lil’alamin, akan tetapi karena Islam adalah agama budaya yang sedang menanjak status sosialnya di Indonesia. Islam semata-mata milik orang kelas menengah ke atas.
Oleh: almanfaluthi on April 17, 2008
at 19:35
Sekarang, naik haji pun khusus orang-orang kaya. Sebuah kasus pernah di catat oleh mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Beberapa orang yang berstatus sosial tinggi, mempunyai uang banyak, bersama pejabat naik haji bersama. Menggunakan maskapai penerbangan termewah. Dengan pramugari cantik nan seksi (meski berkerudung) dan pramugara atletis membuat para bapak-bapak tak bisa menahan godaan. Apa lagi ibu-ibu.
Hijab pun tidak ada. Yang ada makanan mewah, sekelas anggur perancis, kemudian televisi dengan saluran seluruh dunia, para calon haji bebas berbuat apa saja. Tak heran, korupsi paling krusial dalam Islam adalah di tubuh departemen agama.
Oleh: almanfaluthi on April 17, 2008
at 19:35
Sampai kapan hal ini akan terjadi? tak ada rasa peduli kah terhadap orang lain? gizi buruk meningkat, angka bunuh diri tak kunjung turun akibat stres dilanda kemiskinan, kriminalitas orang-orang miskin pun menjadi senjata terakhir ketika perut perlu diisi………..
Sedangkan mereka, enak-enak memakai mukena kualitas tinggi, jutaan rupiah……..memakai koko terbaik yang pernah ada, padahal kasus HAM membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk mengungkap kasus trafficking, yang berujung pada prostitusi….
Anda yang memilih, anda yang membuat keputusan, kita semua yang merasakan hasilnya..termasuk anak-anak jalanan di jalan raya……….
Oleh: almanfaluthi on April 17, 2008
at 19:35
asslm,
yah… memang putih itu indah sekali… kalo nda salah Rasulullah menyukai warna putih dan hitam, makanya di Tanah Suci, rata2 warna putih dan hitam yang dominan.
Rasulullah SAW menggunakan pakaian nya yg paling mahal untuk shalat, kuda yang paling kuat dan sehat untuk membawa beliau berperang.
intinya, mungkin untuk urusan ibadah, insya Allah jika kita mampu, Allah ridho kita menggunakan yang paling berkualitas.
Oleh: ika on Juli 23, 2008
at 19:35
asslm,
Putih itu bersih….menurutku g usahlah didramatisir. Semua ibadah manusia tergantung dari niat dan keikhlasannya. Tapi kalau maalah pakaian sholat, say setuju kalao mau menghadap dan berkomunikasi dengan Allah, hendaklah pakaian terbaik yang kita pakai. Karena untuk kebutuhan konsumtif, pendidikan saja kita pasti memilih yang terbaik. Masa untuk bertemu dan berkomunikasi dengan allah kita pakai pakaian yang sederhana. Ibi – ibu dan Bapak – Bapak kalau mao ke Pesta kan pasti menggunakan pakaian terbaik. Bukan Riya namanya kalau kita ingin ibadah dengan pakaian terbaik…yang penting kita masih mampu mempersembahkannya. Kecuali untuk pamer…..Semua tergantung Niat. Nggak usah dipermasalahkan mengenai mukena mewah itu….
Oleh: wia on Juli 29, 2008
at 19:35
setuju dgn qielcool. Allaah telah memberi kita rejeki, apa salah kita gunakan rejeki itu untuk shalat menghadapNya? selama tugas dan kewajiban kita sebagai umatNya sudah kita laksanakan?
jangan sampai pandangan orang diluar kita mengatakan bahwa islam identik dgn baju yg kumal, kucel, bau dan murahan. padahal mereka pada saat beribadah menggunakan pakaian yg terbagus, bahkan khusus.
jika kita mampu, malah bagus jika kita berpenampilan maksimal, jangan melihat bahwa orang kaya nggak ada yg zakat+infaq+sodaqoh dong…
Oleh: regina on September 17, 2008
at 19:35
Betul juga ya…. tapi kayaknya tidak bisa divonis semua begitu, soalnya belum tentu hal-hal yang tampak mewah belum tentu mahal ?????????? jadi menanggapi comment nya..saya katakan “Bisa Ya Bisa Tidak” he….he…he…
Oleh: HERA on Januari 31, 2009
at 19:35
Betul juga ya…. tapi kayaknya tidak bisa divonis semua begitu, soalnya hal-hal yang tampak mewah belum tentu mahal kan?????????? jadi menanggapi comment nya..saya katakan “Bisa Ya Bisa Tidak” he….he…he…
Oleh: HERA on Januari 31, 2009
at 19:35
Salam ‘alaikum…
bersatu membangun perubahan…
“PARTAI PAS”
Oleh: Partai PAS on Februari 13, 2009
at 19:35