Oleh: salam revolusi | April 14, 2008

Andai Kartini Khatam Mengaji…

Tepatkah  jika  setiap  21  April  di  peringati  dengan  acara-acara  wanita  berkebaya  dan  lomba  berbusana  ala  kartini  di  sekolah-sekolah  maupun  di  lingkungan  perkantoran?  Aktivis perempuan sudah menobatkan R.A. Kartini sebagai pejuang emansipasi. Dia digambarkan sebagai sosok yang bersemangat memperjuangkan kaum perempuan agar mempunyai hak yang sama dan sejajar dengan kaum pria. Pada bulan April tokoh ini kembali diangkat sembari terus mendorong perempuan Indonesia untuk menempati posisi-posisi yang biasanya didominasi oleh pria. Bagai gayung bersambut, kaum perempuan Indonesia pun bergegas mencari peluang karir setinggi-tingginya, tanpa peduli harus mengorbankan keluarga maupun harga dirinya. Benarkah semua ini sejalan dengan perjuangan Kartini?

Agaknya kesimpulan ini terlalu terburu-buru. Mengenal Kartini salah satunya dengan membaca buku kumpulan surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Negeri Belanda. Dalam buku ini tampak bahwa Kartini adalah sosok yang berani menentang adat-istiadat yang kuat di lingkungannya. Dia menganggap setiap manusia sederajat sehingga tidak seharusnya adat-istiadat membedakan berdasarkan asal-usul keturunannya., Peduli  apa  aku  dengan  segala  tata  cara  itu?  Segala  peraturan  semua  bikinan  manusia,  dan  itu  menyiksa  diriku  saja. Kau  tidak  dapat  membayangkan  bagaimana  rumitnya  etiket  di dunia  keningratan  Jawa  itu…Tapi  sekarang  mulai  dengan  aku,  antara  kami (Kartini,  Roekmini,  &  Kardinah)  tidak  ada  tata  cara  lagi.  Peerasaan  Kami  sendiri  yang  akan  menentukan   sampai  batas-batas  mana  cara  liberal  itu  boleh  di  jalankan”. [ Surat  Kartini  kepada  Stella, 18  Agustus  1899] .

Kebencian  Kartini  terhadap  segala  bentuk  etiket  yang  diskriminatif,  mendorongnya  untuk  mengintip nilai-nilai yang  berlaku  di  kalangan  temen-teman  Belandanya. Memang, pada awalnya Kartini begitu mengagungkan kehidupan liberal di Eropa yang tidak dibatasi tradisi sebagaimana di Jawa. .” Orang  kebanyakan meniru  kebiasaan  orang  baik-baik.  Orang  baik-baik  itu  meniru  perbuatan yang  lebih  tinggi  lagi,  dan  mereka  itu  meniru  yang  tertinggi  pula  ialah  orang  Eropa.” [ Surat  Karini  Kepada  Stella, 25  Mei  1899].

Tahun-tahun  terakhir  sebelum  wafat,  kartini  menemukan  jawaban  atas  pertanyaan   yang  bergejolak  dalam  hatinya.  Ia  mencoba  mendalami  ajaran  yang  di  anutnya,  yaitu  ISLAM.  Ajaran  Islam pada  awalnya   tak  mendapat  tempat  di  benak  kartini.  Hal  ini  di karenakan  pengalaman  yang  tak  mengenakkan  dengan  sang  Ustadzah.  Sang  Ustadzah  menolak  menjelaskan  makna  ayat  yang  di  ajarkannya. ” Mengenai  agamaku  Islam,  Stella,  aku  harus  menceritakan  apa?  Agama  Islam  melarang  umatnya  mendiskusikannya karena  nenek  moyangku  Islam.  Bagaimana  aku  dapat  mencintai  agamaku,  kalau  aku  tidak  mengerti,  tidak  boleh  memahaminya?  Al-Qur’an  terlalu  suci,  tidak   boleh  di terjemahkan  ke dalam  bahasa  apapun. Di sini  tidak  ada  orang  yang  mengerti  bahasa  Arab.  Di  sini  orang  di  ajar  membaca  Al-Qur’an tetapi  tidak  mengerti  apa  yang  di  bacanya.  Kupikir,  pekerjaan  orang  gilakah,  orang  di  ajar  membaca  tapi  tidak  di  ajar  makna  yang  di bacanya  itu.  Sama  saja  halnya  seperti  engkau  mengajarkan  aku  buku  bahasa  inggris,  aku  harus  hafal  kata  demi  kata,  tetapi  tidak  satu patah  kata pun  yang  engkau  jelaskan  kepadku  apa  artinya.  Tidak  jadi  orang  soleh pun  tidak  apa-apa.  Asalkan  jadi  orang  yang  baik  hati,  bukankah  begitu  Stella?” [  Surat  Kartini  kepada  Stella,  3  November  1899].

Namun,  pertemuannya  dengan  KH. Muhammad  Sholeh  bin  Umar, seorang  ulama  besar  dari  Darat  Semarang,  telah  mengubah  segalanya.  Kartini  tertarik  dengan  terjemahan  surat  Al-fatihah  yang  di sampaikan  Kyai.  Kartini  pun  mendesak  salah  satu  pamannya  untuk  bertemu  dengan  sang  Kyai.  Berikut  adalah  petikan  dialog  Kartini  dengan  Kyai  Soleh  Darat,  yang  di tulis  oleh  Nyonya  Fadhilla  Sholeh,  Cucu  Kyai  Sholeh  Darat.  “  Kyai,  perkenakanlah saya  menanyakan,  bagaimana  hukumnnya  apabila  seseorang  yang  berilmu,  namun  menyembunykan  Ilmunya?”  Tertegun  Kyai  Soleh  Darat  mendengar  perkataan  Kartini  yang  di  ajukan  secara  diplomatis  itu.    ” Mengapa  Raden  ajeng  bertanya  demikian?”  Kyai  Soleh  berbalik  Tanya.                  Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran al-Quran dalam bahasa Jawa? bukankah al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” Begitu komentar Kartini ketika bertanya kepada gurunya, Kyai Sholeh Darat. 

Setelah  pertemuannya  dengan Kartini, Kyai  Soleh  Darat  tergugah  untuk  menerjemahkan   Al-Qur’an  ke dalam  bahasa  Jawa.  Pada  hari  pernikahan  Kartini,  beliau  menghadiahi  terjemahan  Al-Qur’an (Faizhur  Rohman  Fit  Tafsiril Qur’an),  jilid  pertama  yang terdiri  dari  13  juz,  mulai  dari  surat  Al-Fatihah  sampai  dengan  surat  Ibrahim.  Mulailah  Kartini  mempelajari  Islam  dalam  arti  yang  sesungguhnya.  Tapi  sayang  tidak  lama  setelah  itu,  Kyai  Spleh  Darat  meninggal  dunia,  sehingga  belum  selesai  di  terjemahkan  seluruh  Al-Qur’an  ke  dalam  bahasa  Jawa.

Andai  saja  Kartini  sempat  mempelajari  keseluruhan  ajaran  Islam (Al-Qur’an)  maka  tidak  mustahil  jika  ia  akan  menerapkan  semaksimal  mungkin  semua  kandungan  ajarannya.  Kartini  sangat  berani  untuk  berbeda  dengan  tradisi  adatnya  yang  sudh  terlanjur  mapan.  Kartini  juga  memiliki  modal  ketaatan  yang  tinggi  terhadap  ajran  Islam.  Pada  mulanya,  beliau  adalah  sosok  paling  keras  menentang  poligami.  Tetapi  setelah  mengenal  ajran  Islam,  beliau  mau  menerimanya.

Setelah sedikit mengenal Islam, Kartini justru mengkritik peradapan masyarakat Eropa dan menyebutnya sebagai kehidupan yang tidak layak disebut sebagai peradaban. Pemikiran Kartini berubah, yang tadinya menganggap Barat (Eropa) sebagi kiblat, lalu menjadikan Islam sebagai landasan dalam pemikirannya. Hal ini setidaknya terlihat dari [Surat Kartini kepada Abendanon, 27 Oktober 1902] yang isinya berbunyi, “Sudah lewat masamu, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?”  .Demikian juga dalam [ Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902] yang isinya, “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.”

Dalam suratnya Kartini meminta pemerintah Hindia Belanda memperhatikan nasib pribumi dengan menyelenggarakan pendidikan. Kartini memiliki cita-cita yang luhur, yaitu mengubah masyarakat, khususnya kaum perempuan yang tidak memperoleh hak pendidikan, juga untuk melepaskan diri dari hukum yang tidak adil dan paham-paham materialisme, untuk kemudian beralih ke keadaan ketika kaum perempuan mendapatkan akses untuk mendapatkan hak dan dalam menjalankan kewajibannya. Ini sebagaimana terlihat dalam tulisan [ Surat  Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya pada 4 oktober 1902], yang isinya, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Ia mengungkap hal yang sama kepada sahabat-sahabatnya, terutama pendidikan bagi kaum perempuan. Hal ini karena perempuanlah yang membentuk budi pekerti anak. Berulang-ulang Kartini menyebut perempuan adalah istri dan pendidik anak yang pertama-tama. Dia memaksudkan keinginannya mengusahakan pendidikan dan pengajaran agar perempuan lebih cakap dalam menjalankan kewajibannya dan tidak bermaksud menjadikan anak-anak perempuan menjadi saingan laki-laki. Tidak ada keinginan Kartini untuk mengejar persamaan hak dengan laki-laki dan meninggalkan perannya dalam rumah tangga. Bahkan ketika ia menikah dengan seorang duda yang memiliki banyak anak, Kartini sangat menikmati tugasnya sebagai istri dan ibu bagi anak-anak suaminya. Inilah yang membuat Stella, sahabatnya, heran mengapa Kartini rela menikah dan menjalani kehidupan rumah tangganya. 

Setelah mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya dan mengkaji isi al-Quran, Kartini terinspirasi dengan firman Allah SWT (yang artinya), “mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) .(QS al-Baqarah [2]: 257),” yang diistilahkan Armyn Pane dalam tulisannya dengan, “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

 

Demikianlah, Kartini adalah sosok yang mengajak setiap perempuan memegang teguh ajaran agamanya, dan meninggalkan ide kebebasan yang menjauhkan perempuan dari fitrahnya. Kini jelas apa yang diperjuangkan aktivis jender dengan mendorong perempuan meraih kebebasan dan dan meninggalkan rumah tangganya bukanlah perjuangan Kartini. Sejarah Kartini telah disalahgunakan sesuai dengan kepentingan mereka. Kaum Muslim telah dijauhkan dari Islam dengan dalih kebebasan, keadilan dan kesetaraan jender.

Jadi, kaum Muslimah saat ini harus kembali pada Islam, menjalankan tugasnya sebagai ibu dan istri sekaligus menyadarkan Muslimah yang lain agar tidak tertipu ide jender yang sejatinya merendahkan martabat mereka, membahayakan generasinya serta menjauhkan dari agamanya. ( Dari  berbagai  Sumber).

 


Tanggapan

  1. Saat ini Kartini sedang “menangis di kuburnya”, :( ceritanya sedikit disini

  2. Subhanallah

  3. Judulnya bukan itu, tapi ditambahin, seandainya ulama tidak pelit ilmu…..
    kan semua akan menikmati hasilnya…
    pantes sejak dulu kita dibodohin penjajah…lha wong ulamanya aja pelit kok…syukurlah kartini mau menjadi martir
    meskipun beliau belumlah sempurna. tapi jalannya patut ditiru oleh perempuan masa kini yang berjilbab, tapi langkah2nya nol besar.

  4. Ayo ‘kartini’ masa kini bangkit dengan Syariah!

  5. Assalammu’alaykum…
    Komentar diatas lumayan ya…
    Memang benar, seandainya kartini khatam mengaji, mungkin beliau akan berkerudung dan berjilbab dan pasti akan senantiasa menegakkan syariat Islam…Allahhu Akbar….
    Tak ada langkah yang bernilai nol dimata Allah, semua langkah itu akan berjalan dengan ridho Allah….
    Ana yakin, jikalah Allah menghendaki langkah-langkah akhwat berjilbab itu terwujud semua pasti akan terjadi…”Kun Fa Yakun”
    ammin…
    Semangatlah semua muslimin muslimah untuk senantiasa bergerak menegakkan Dien-Nya….
    Wassalam…

  6. Aahhh… tulisan ini bener bisa dipertanggung jawabkan gak ? Terus terang, it’s so good to be true menurut saya.. Maaf, bukan saya mau nyerang, tapi tulisan ini bener-bener seperti apa yang saya bayangkan ‘Kartini sejati’… Karena selama ini saya cuma lihat orang-orang, terutama kaum ‘HAWA’ yang secara tolol mengibarkan kesetaraan gender padahal gak lebih dari ‘pembrontakan’ semata. Saya muak sama gaya2 seperti ini.. malah saya lihat, ini gak lebih dari usaha LSM yang maunya seluruh perempuan di Indonesia bisa berpikir dengan gaya barat.. Naah.. kalau tulisan di atas benar adanya, maka semua pemikiran ‘perempuan endonesah yang gak jelas’ itu salah !!. heheheheh… Senang saya.. :-) So please.. check again.. apa tulisan anda benar atau ini gak lebih dari khayalan..
    PS: ini tulisan saya taun lalu mengenai ‘Kartini’. http://reynaldi.or.id/blog/2007/04/23/hari-kartini-so/

    Wassalam.

  7. Tentu saja bisa di pertanggungjawabkan, banyak literature mengenai hal ini. adapun perjuangan para kaum gender adalah semata-mata upaya untuk mengaburkan sejarah yang sebenarnya

  8. Assalamu’alaikum…

    Salute 2 Our words…

    I hope, this words can be printed and showed 2 everyone,
    coz we can know if Kartini not only struglle for “emansipasi” but also the truth of Islam…


Beri tanggapan

Your response:

Kategori