Apa yang dipikirkan para penguasa itu Mereka duduk dikursi tinggi dan nyaris tak bisa melihat rakyatnya sendiri
Satu keluarga, di kampung halaman wapres Jusuf Kalla, nyaris mati karena kelaparan di Makassar sana.
“…Daeng basse(45) yang sedang hamil tua serta anaknya, Bahri (5) mati karena perut mereka tak terisi…”
Ku baca salah satu tulisan di Surat Kabar nasional bulan lalu
terakhir si bungsu Aco(3) hanya mampu menarik napas satu satu
di di ranjang ranjang Rumah Sakit dengan kulit mata yang sudah membiru.
Lalu, Walikota Makassar hanya bisa berkelit, membantah penyebab kematian bukanlah kelaparan, tapi karena terjadi sesuatu.
Fiuhhh, sesak dada ini… apakah dengan menyebut bukan lapar penyebab kematian, rakyatnya akan hidup lagi!?
Pemimpin macam apa yang dengan tega menghindari tanggung jawab atas rakyatnya sendiri Berkelit egois mencari pembenaran untuk membela citra diri
” Umar bin Khattab pernah menghentikan ekspansi wilayah Islam yang sudah sangat luas terbentang dari dari Timur ke Barat. Ia begitu khawatir dengan wilayah kekuasaannya yang begitu besar. Umar takut, jika kelak ada seekor apapun itu, manusiakah, hewankah, atau makhluk hidup lainnya, mati kelaparan di tanah Muslim tanpa sepengetahuannya, lalu Allah meminta pertanggungjawabannya. Apa yang akan di berikan sebagai jawaban oleh Umar?.”
“Andai saja pemimpin negeri yang luas ini, ketakutan atas pertanyaan pertanyaan yang di ajukan di hari penghisaban nanti. Sekarang Walikota Makassar boleh berkelit tak hendak memberi jawaban. Sekarang, Gubernur atau Presiden, boleh mengaku tak tahu menahu. Tapi kelak, tak akan ada yang bisa berkelit lagi di hadapan Allah SWT.”
“Marahlah pada Bupati. Marahlah pada Gubernur , bahkan pada Presiden yang berkuasa sekalipun. Tapi jangan lupa, marahlah pada diri sendiri karena tidak mampu berbuat apa-apa.”
“Tidak hanya para pemimpin yang salah, tapi kita juga, para tetangga, para saudara yang mengaku seiman tapi hanya mampu memangku tangan. Apa yang bisa kita jawab nanti, kalau Allah bertanya di Hari Kemudian?”
Ternyata kita adalah para pendusta agama
yang tidak menolong manusia lain dengan barang-barang yang berguna Ternyata kita adalah para pendusta agama
yang tidak pernah tahu apakah ada tetangga di samping kiri dan kanan rumah yang kelaparan sedemikian rupa Ternyata kita adalah para pendusta agama yang hanya mampu ribut ketika tragedi sudah mengemuka
termasuk saya
” Seharusnya kita menjadi Umar, yang berkeliling dari rumah ke rumah, mencari tahu kabar para tetangga. Seharusnya kita menjadi Umar, yang memikul sendiri karung gandum , memberi makan mereka yang kurang beruntung. Seharusnya kita menjadi Umar, yang tak dapat tidur karena pikirannya tersita pada nasib saudara yang tak mujur.”
kita harus menjadi Umar
meski tanpa gelar Khalifah atau Raja
kita harus menjadi Umar
meski bukan Bupati atau Walikota
kita harus menjadi Umar
meski bukan Gubernur atau Presiden Indonesia
kita harus menjadi Umar
sebab yang seharusnya berperan sebagai Umar
hanya mampu menggerutu
tampak tidak tahu menahu
seperti banci di salon rumpi yang mencari kutu
( Di olah dari Tulisan Herry Nurdi, Sabili Maret 2008)





saat menjadi rakyat, jadilah seperti Ali RA
ketika ditanya kenapa zaman Umar demikian hebatnya, beliau berkata:
saat itu pemimpinnya Umar dan rakyatnya seperti aku
sekarang pemimpinnya aku dan rakyatnya seperti kalian.
salam kenal
Oleh: arifrahmanlubis on April 25, 2008
at 19:35
perumpamaan yang bagus, ustadz.. terima kasih
Oleh: salam revolusi on April 25, 2008
at 19:35
seperti ayam yang mati di lumbung padi
Oleh: Zulfi on April 25, 2008
at 19:35
kita harus terus berkaca pada hati kita sendiri…
masih banyak perjuangan kita untuk membantu sesama
Oleh: kevlannietzsche on April 25, 2008
at 19:35
salam kenal…
Sebenarya kita tidak perlu menjadi siapa-siapa kecuali menjadi diri kita sendiri untuk dapat menolong minimal berempati pada saudara-saudara kita. Perjuangan tidak akan pernah padam dan tidak akan ada ujung pangkalnya hingga hari ahir nanti. diakui atau tidak pemerintah saat ini sudah gagal dalam menyelamatkan rakyatnya dari bahaya kelaparan, bagaimana tidak tidak sedikit anak bangsa ini yag mengkonsumsi nasi aking, padahal jika ditilik lebih lanjut mereka bermatapencaharian sebagai petani, namun mereka sendiri tidak mampu menikmati hasil yang mereka petik, Sungguh sebuah sandiwara kehidupan yang menarik……
Mau sampai kapan kita berpangku tangan, mau sampaikapan kita hanya mampu bersimpati dan bersedih, sementara Presiden tidak menangis ketika melihat rakyatnya menderita, namun cukup tersentuh dan beberapakali mengeluarkan airmata ketika mononton film ayat-ayat cinta….sunggung melo..sekali presiden kita.
Mari kita bergandengan tangan mengencangkan ikat pinggang, menyingsingkan lengan baju dan merapatkan barisan untuk bangkit berdiri dan berlari menuju kehidupan yang lebih baik.
sudah saatnya Indonesia membuat jalan baru dengan pemimpin yang baru, BANGKIT DAN LAKUKAN PERUBAHAN
semoga Alloh selalu menyertai setiap usaha umatnya dalam melakukan perubahan kearah yang lebih bai, sebab Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak mau merubahnya. terimakasih
Oleh: cdsi on April 26, 2008
at 19:35