Ingat dengan slogan 3 kata di atas yang cukup ngetren di masyarakat terutama di kalangan anak muda? tajuk di atas memang pernah di jadikan judul lagu oleh MAIA baru-baru ini, tapi jauh sebelum itu, kalimat ini cukuplah popular di komunitas anak “gaul” bahkan anak-anak ingusan sekalipun.
Entah kenapa, dalam kacamata saya, saya sangat benci mendengar apabila ada orang-orang di sekitar saya yang mengucapkan kalimat ini. Sangat tidak berbobot, terkesan egois, dan tidak santun .
Sepertinya prinsip inilah yang di peluk oleh sebagian besar para pemimpin dan penguasa negeri ini. Masih ingat dengan kejadian awal April silam? Sebuah acara Forum Konsolidasi Pimpinan Pemerintahan Daerah yang di selenggarkan Lembaga Ketahanan Nasional, yang berkumpul di ruangan itu adalah para bupati ,walikota dan pimpinan daerah dari seluruh Indonesia. Ketika Pak SBY berbicara tentang budaya pemborosan energi, matanya menatap salah seorang peserta, entah bupati atau walikota dari mana, satu di antara mereka memicu kemarahan presiden , karena tak kuat menahan berat matanya.
” Coba , Bangunkan itu! Ya, itu,” kata Presiden sambil menunjuk. ” Pemimpin bagaimana mau memimpin rakyat jika di ruangan ini tidur. Malu pada rakyat. Saudara di pilih langsung oleh rakyat. Di ajak berbicara memajukan rakyat saja anda tidur. Jangan main-main dengan amanah dan tanggung jawab!!!
Mungkin tidak satu. Mungkin ada beberapa hadirin di ruangan itu yang tak kuasa menahan kantuk mata. Mungkin juga karena topik dan cara penyampaian presiden yang tak menarik. Mungkin mereka kelelahan. Atau mungkin mereka hanya tidak peduli, dengan isi pidato, tanggung jawab, amanah, dengan rakyat. Yang terpikir oleh mereka pada saat itu, Emang gue pikirin!!!
Dulu sejarah pernah mencatat, ada seorang Khalifah/ pemimpin yang tak bisa tidur memikirkan nasib rakyatnya. Beliau berkeliling setiap malam untuk mencari tau, adakah rakyatnya yang tak makan hari ini. Tapi kini, sejarah juga mencatat, betapa banyak pemimpin yang tertidur pulas. Bahkan ketika rakyatnya memelas, mengiba-iba, bahkan mati kelaparan.
Saya jadi ingat kemarin adalah peringatan hari pendidikan nasional (Hardiknas) setiap tanggal 2 mei. Sungguh memprihatinkan melihat nasib kesjahteraan guru masa sekarang di Indonesia. Di negeri yang kaya ini, anggaran untuk pendidkan tidaklah besar, gaji guru pun tidaklah cukup dengan pengabdiannya mendidik generasi penerus bangsa. Tahukah anda tentang Sartono? Lelaki tua renta yang namanya di abadikan karena telah menciptakan lagu Hymne Guru yang tiap tahun menjelang kelulusan sekolah selalu di kumandangkan siswa-siswinya. Namun lagu sang pengabdi negeri ini sangatlah berbanding terbalik dengan keadaannya sekarang. Terbelit dalam kemiskinan, dan seumur hidupnya masih berstatus sebagai Guru Honorer dengan gaji yang hanya cukup untuk makan beberapa hari. Catet…GURU HONORER.
Coba bandingkan dengan gaji guru pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Pada masanya, Khalifah mampu menggaji guru di madinah masing-masing 15 Dinar (1 Dinar=4,25 gram emas). Jika 1 gram saat ini seharga Rp. 200 ribu, berarti masa itu gaji guru mencapai sekitar Rp. 12,75 Juta.
Ω-Ω
Menjelang sakarul maut sang kekasih Allah, Rasulullah saw mengaduh di saat Malaikat Izrail hendak menunaikan tugasnya, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.” Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku.”
Rasulullah saw sampai menjelang akhir hayatnya pun masih mengingat nasib umatnya di tengah rintihan bibir beliau yang mulai kebiruan. ” Ummati, ummati, ummati ( Ummatku, ummatku, ummatku).”
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinar itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik alaaa wa salim’alaihi. Betapa cintanya Rasulullah saw kepada kita. Betapa pedulinya rasulullah kepada kita.
Dan selama kehidupan ini terus berputar, tak akan pernah ada mukmin yang mengatakan “Emang Gue Pikirin!!!”





di postingan terbaru saya ada sample sikap salah satu pejabat baru kita, pak dede yusuf, wagub jabar.
Oleh: riza on Mei 3, 2008
at 19:35
Mulailah dari diri kita masing-masing
keluarga, masyarakat, …
berubahlah menapaki jalanNya
Oleh: kakanda on Mei 3, 2008
at 19:35
yapz,betul banget..
mereka cuma butuh kedudukan,gelar,dan harta.
tanpa memperdulikan nasib orang2 yang telah mempercyai mereka..
ehm..
mampir k blog gw dunk.. :d
Oleh: bayusaja on Mei 3, 2008
at 19:35
setuju deh…
salam kenal:D
Oleh: winsolu on Mei 3, 2008
at 19:35
KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK “Leoxa.com”
(Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)
Oleh: kang4roo on Mei 4, 2008
at 19:35
egp itu apaan? apa bisa dimakan? kalau tidak bisa, dibuang aja!!!
Oleh: julfan on Mei 4, 2008
at 19:35
bagus sekali pak postingannya.. sy sendiri kalo sdg pusing mikirin kerjaan/bnyk masalah jd cenderung cuek sm sekitar dan sering bersikap emang gue pikirin.. boro2 mikirin orang lain masalah gue sendiri aja banyak.. trimakasih sudah diingatkan spy gak tenggelam ma masalah sendiri krn setiap orang hidup pasti ada masalah (kalo ngak = mati donks).. dan pasti ada solusinya dr setiap permasalahan yg kita hadapi *amin* emang dh sy kurang ngikutin sih perkembangan politik dll di negara ini, mmg gak ada minat juga buat ngikutinnya, cuman ya pokoknya sy mulai diri sendiri aja dulu dh.. kalo sy udah bisa nolong diri sendiri, paling nggak saya kan gak nambah2in masalah/beban buat negara ini hehehe tul kan.. yah simple2 aja mikirnya ok deh cheers everyone
Oleh: it's me on Juni 3, 2008
at 19:35