Sebuah Dongeng dari Negeri Impian berjudul Kesetaraan Gender
Beberapa waktu terakhir ini ada sebuah wacana yang muncul mengepung ruang kesadaran pribadi dari berbagai arah. Bermula dari petualangan maya dari satu blog ke blog lain, dari satu website ke website yang lain, sampai berlanjut puncaknya tatkala hadir sebuah naskah pidato kebudayaan yang kesemuanya itu bicara tentang perempuan. Tentang diskriminasi, tentang ketidakadilan dan penindasan terhadap perempuan, manusia itu bernama perempuan.
Ini bukan sesuatu yang baru memang, namun entah mengapa tiba-tiba sekarang semuanya serentak menyeruak masuk mengusik akal budi nurani.
Bukan serba kebetulan jika akhir-akhir ini telinga anda di buat bosan dengan wara-wirinya kasus yang ‘melecehkan’ martabat perempuan Indonesia. Dari kasus KDRT Maya Estianti, Kasus pernikahan dini Lutviana Ulva oleh Pujiono Cahyo, Kasus Poligami Rhoma Irama yang lagi-lagi di sorot sejak anaknya menjadi beken, dan yang terbaru ,Kasus Pelecehan seksual Manohara Odelia Pinot. Saya bukan pengikut setia Infotainment masa kini, namum mengkritisi pelbagai kasus yang bersliweran di ranah televisi, membuat saya bertanya dalam hati, Ada apa ini?
Bukan tanpa sebab pula jika sutradara perempuan sekaliber Nia Dinata sampai harus membuat film bertajuk ‘Berbagi Suami’. Bukan tanpa maksud jika film seperti Perempuan berkalung sorban, Sinetron Muslimah dan Hareem di benturkan sedemikian agar di ketahui publik secara luas. Seluruh aktivis-aktivis yang mengaku peduli nasib perempuan pun di kerahkan di bawah naungan LSM-LSM bermodal kucuran dana dari The Asia Foundation untuk turun kelapangan. Sampai-sampai, Caleg perempuan sekelas Rieke Dyah Pitaloka sampai Nurul Arifin bergema untuk turut memenuhi zona legislatif demi memperjuangkan hak perempuan.
Pemblow-up an kasus-kasus di atas membuka mata saya bahwa ada skenario besar di balik ini semua. Secara sistematis dan konsisten mereka memperjuangkan gagasan kesetaraan gender yang cukup absurd secara substansi. Meski rapuh dalam solusi dalam menyelesaikan berbagai kasus atas nama gender, Mereka aktivis-aktivis feminis tetap saja pede untuk menyuarakan pemikiran nyeleneh mereka agar tetap eksis di permukaan.
Pernahkah anda mendengar?
Bila Perempuan Barat berhenti bekerja dan lebih memilih di rumah, maka itu adalah sebuah “PENGORBANAN AGUNG” Akan tetapi…
Bila Perempuan Timur berhenti bekerja dan lebih memilih di rumah, maka itu adalah sebuah “KEMUNDURAN BESAR.Mengapa demikian? Sampai bisa terjadi perbedaan pandangan yang terbalik 180 derajat dari belahan bumi yang satu dengan belahan bumi yang lain.
Ada skenario besar yang bisa kita simpulkan dari pernyataan seorang filsuf bernama Socrates.
Bila gender 50/50 ingin dicapai, maka jangan sampai intitusi keluarga terbentuk, entah melalui seks bebas, aborsi, pembunuhan bayi, mencegah ibu mengasuh anaknya, perkawinan semalam dan sebagainya. Hilangkan maskulinitas pria. Pria juga harus dibebaskan dari mitos-mitos bersikap melindungi wanita. Kesempatan sama-resiko sama”
Ya, Tujuan Kesetaraan Gender tak lain adalah memfeminimkan pria dan memaskulinitaskan wanita.
Jika pria boleh bekerja di luar dan pulang malam, maka wanita boleh melakukan hal yang sama. Jika wanita biasa mengurus anak dan rumahtangga, maka pria pun wajib melakukan hal yang sama. Jika Pria bisa memperbaiki genteng yang bocor, maka wanita pun harus melakukannya
![]()
Tujuan lainnya adalah menghancurkan institusi keluarga sebagai basis pertama dalam mendidik generasi berkualitas dengan tujuan akhir untuk menghancurkan peradaban bermutu yang mulai mengarah kepada kebangkitan.
Ini bisa di lihat dari fakta-fakta yang terjadi yang menunjukkan arah skenario besar mereka. Jika melihat korelasi antara usaha melegitimasi kesetaraan gender dengan usaha untuk di golkannya CLD-KHI (Counter Legal Draft-Kompilasi Hukum Islam) yang mengotak-atik pengaturan pria dan wanita dalam kacamata agama.
Di mana dalam CLD-KHI yang di motori Musdah Mulia,dkk merevisi kembali aturan-aturan tertentu yang kira-kira begini redaksinya :
1). Dalam hal perkawinan, perempuan bisa menikah tanpa meminta izin dari walinya, bahkan perempuan bisa menikahkan dirinya sendiri tanpa wali nikah.
2). ‘Memerdekakan’ perempuan dalam hal meminta izin kepada suami, baik dalam hal bekerja, bepergian, memutuskan pendapat, dll yang katanya agar perempuan ‘mandiri’ dalam mengambil keputusan.
3). Memberlakukan masa iddah bagi laki-laki yang bercerai sebagaimana yang berlaku pada perempuan. sungguh tidak masuk logika, tujuan di berlakukannya masa iddah terhadap perempuan itu dengan tujuan agar mengetahui apakah perempuan itu hamil atau tidak dari suami sebelumnya. Moso hal ini harus di berlakukan bagi pria yang notabene tidak melahirkan dan tidak menyusui?
4). Melarang Poligami dalam bentuk apapun karena di anggap sebagai bentuk pelecehan seksual terhadap perempuan.
5). Melarang nikah siri. Dan para pelaku nikah siri akan di perkarakan secara hukum pidana dan perdata.
6). Hak waris antara laki-laki dan perempuan 1:1. Padahal dalam Islam,laki-laki dilebihkan secara hak waris karena merekalah yang akan menjadi tulang punggung keluarga. dan perempuan akan di nafkahi oleh suaminnya yg notabene laki-laki.
Mempertanyakan makna kesetaraan gender penting untuk mendapatkan jawaban orisinal dan hakiki yang bukan semata-mata versi dongeng turun temurun milik patriarki di wilayah silang pendapat antara pro dan kontra yang terjadi.
Masalah gender, merupakan satu dari banyak aspek kehidupan yang memberi stimulus kepada manusia untuk berupaya mencari jalan pencarian jati diri kemanusiaan untuk menuju pada fitrah kesempurnaannya. Oleh sebab itu, jawaban atas masalah gender hanya bisa ditemukan di wilayah kedalaman relung diri yang imanen dan transendental melalui hubungan langsung antara manusia yang diciptakan dengan Sang Maha Kehendak yang menciptakan. Tidak ada satu otoritas apapun di dunia ini yang boleh bertindak sebagai juru bicara untuk memberi jawaban atas pertanyaan tersebut kecuali Sang Maha Pencipta itu sendiri. Dalam logika yang paling sederhana, tentu yang paling mengerti eksistensi kesejatian suatu benda adalah yang menciptakan benda tersebut.Makna Kesetaraan Gender tidak dapat di putarbalikkan begitu saja secara multitafsir yang dipenuhi oleh keterbatasan pemahaman akal pikir manusia yang penuh dengan muslihat dan arogansi intelektual.
Gerakan melawan arus fitrah ini sungguh harus di hentikan. Betapa tidak, dari tujuan saja sudah jelas mereka ingin menghancurkan generasi yang berperadaban tinggi. Padahal secara Fitrah, Dan dalam hal-hal urgen seperti hitungan jumlah pahala dalam ibadah, laki-laki dan perempuan sama di mata Allah. yang membedakan hanyalah amalnya saja.
Dunia terasa indah bila laki-laki dan perempuan saling memahami perbedaan masing-masing, karena memang sejak awal mereka diciptakan berbeda…Justru perbedaan itulah yang menyebabkan mereka bisa bersatu dan saling melengkapi. :)


perempuan dan laki-laki jelas berbeda, semua penelitian psikologi, neurologi dan sosiologi terbaru pun telah membuktikan hal itu.
dunia menjadi seperti ini karena pria dan wanita dipaksakan untuk berlomba di jalur yang sama dan memperebutkan piala yang sama. Dimana piala dalam kapitalisme ini diartikan sebagai kekuasaan, kemandirian ekonomi, dan lain sebagainya
padahal wanita diciptakan dengan default settingnya sendiri dan dengan purposenya sendiri, pun pria diciptakan dengan default settingnya sendiri dan purposenya sendiri
Feminisme adalah absurd, sama absurdnya dengan pejuang gender dan para feminis yang berusaha menarik wanita justru kedalam ranah yang mereka tak kuasai dan berbahaya bagi fitrahnya
Mengapa ada Miss Universe dan tidak ada Mr Universe? Itukah yang diinginkan para feminis? mengeksploitasi wanita dengan tubuhnya? Ok, feminis menjawab “kecantikan dan seksi itu bukan masalah tubuh dan fisik tapi BRAIN and KNOWLEDGE, halah, omong kosong.. selama ini mana ada miss Universe yang badannya segede gentong =D
“Paradigma bahwa perempuan hanya, di rumah, tukang cusi, kasur dll, itu sudah tidak jaman lagi” >>> iya ini tidak jaman lagi bagi yang punya paradigmna bahwa ini adalah perbuatan kelas dua. Dalam pandangan Islam, perbuatan ini adalah perbuatan yang sungguh mulia dan setara dengan ibadah-ibadah yang dilakukan pria.
Inilah penggalan hadits rasul yang menarik disimak:
wanita bernama Zainab datang menemui Rasulullah SAW lalu berkata:
“Aku telah diutus oleh kaum wanita kepada engkau.
Jihad yang diwajibkan oleh Allah ke atas kaum lelaki itu,
jika mereka luka parah, mereka mendapat pahala.
Dan jika mereka gugur pula, mereka hidup disisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki. Manakala kami kaum wanita, sering membantu mereka.
Maka apakah pula balasan kami untuk semua itu?”
“Sampaikanlah kepada sesiapa yang engkau temui daripada kaum wanita, bahawasanya taat kepada suami serta mengakui haknya adalah menyamai pahala orang yang berjihad pada jalan Allah,
tetapi adalah sangat sedikit sekali daripada golongan kamu yang dapat melakukan demikian.”
kesetaraan jangan diartikan penyamaan atau menyamakan tinggi rendah. karna jika itu terjadi maka muncullah problematika wanita maskulin dan pria feminim. wanita bisa mengerjakan seperti apa yang dilakukan pria seperti bekerja dikantor, memperbaiki benda yang rusak, mengambil keputusan dan begitupun seperti halnya pria yang dapat mengerjakan apa yang dikerjakan oleh wanita, contohnya memasak, mengasuh bayi dan berbelanja namun pada fitrahnya, sesungguhnya Allah SWT telah mengatur semua hal itu dengan yang paling sempurna dan paling terbaik. artinya disini bukan semata2 merendahkan kaum hawa sedangkan kaum adam merasa berkuasa akan tetapi dari berbagai si2 terdapat perbedaan2 yang memungkinkan apa yang dikerjakan sesuai bidangnya masing. pria yang lebih perkasa serta tegas namum bijaksana tentu saja menjadi pemimpin kau wanita, dia lebih pantas untuk bekerja dan memutuskan sesuatu dengan mempertimbangkan segala kebijakan. sedangkan kaum wanita yang lebih bersifat halus, lembut dan peka terhadap perasaan maka lebih co2k pada posi2 yang dipimpin, memberikan masukan, melunakkan suasana dan mengatur rumah tangga. pantaslah jika Allah menciptakan pria dan wanita agar saling melengkapi, saling menutupi dan saling memahami satu sama lain sehingga terciptalah keharmonisan hidup itu sendiri..,
Assalamualaikumwr.wb….
luar biasa emang… semakin nyata aksi2 para feminis!
sebenarnya ada banyak hal yang menarik yang saya temukan,
disatu sisi… perempuan nuntut persamaan hak terhadap pria dalam segala aspek kehidupan, namun disisi lain … perempuan justru sering menuntut perlakuan yang lebih ketimbang laki-laki.
buktinya : Perempuan lebih sering ingin diperhatikan oleh laki-laki ketimbamg laki-laki yang diperhatikan perempuan. tul gagh? Perempuan juga sering minta diperlakukan manja oleh laki-laki, dalam banyak hal perempuan juga selalu ingin didahulukan, ingin dilindungi, dan diprioritaskan. contohnya aja seperti di dalam angkutan umum, dan lain.
bukannya hal itu merupakan hal yang justru bertentangan dengan apa yang mereka
tuntut n perjuangkan selama ini???
CK CK CK………………………..
“suami – suami takut istri” itupun produk mereka rupanya, pantesan rasanya ngga sreg dengan ati ku nii..
rese’ githu lhooo…
jadi kesimpulannya kita musti menggiatkan da’wah kita buat membungkam kaum yang rese’ itu dalam berbagai cara dan sarana…
Salam Revolusi…. Allahu Akbar !