Beranda > Open Ur Mind > Kegagalan Negara ‘Bukan-Bukan’

Kegagalan Negara ‘Bukan-Bukan’

Saya makin pesimis melihat masa depan negeri ini jika di pimpin salah satu dari ketiga pasangan calon capres dan cawapres yang akan bertanding di delapan Juli. Beberapa kali saya menyaksikan debat capres cawapres (sebenarnya lebih tepat di sebut sebagai penyampaian visi dan misi) yang di selenggarakan oleh KPU. Tidak ada satu tawaran yang baru dan benar-benar baru yang tidak terkontaminasi oleh tangan-tangan Kapitalis, apalagi untuk mendobrak ketergatungan bangsa ini terhadap asing seperti yang pernah dilakukan Kuba di bawah kepemimpinan Fidel Castro. Tidak ada satupun yang memuaskan saya dalam memberikan solusi alternatif sebagai jawaban atas akar permasalahan bangsa ini. Dan Tidak satupun yang bisa secara tepat memetakan problematika bangsa dan solusinya secara solutif dan praktis.

Izinkan saya membawa anda untuk kembali mengingat saat-saat di mana gempa bumi mengguncang Bam,Iran pada tahun 2003 yang membuat negeri Persia ini nyaris rata dengan tanah. Tetapi itu tidak lama, dalam hitungan 24 jam, pemerintah Iran mampu mengeluarkan daftar kebutuhan darurat secara tepat dan cepat. Negara Eropa dan dan Jerman pada saat itu diminta menyumbang alat-alat berat berteknologi mumpuni. Cina di harapkan memberi kantong plastik untuk jenazah. Negara Asean di minta untuk menyumbang bahan makanan. Dan khusus untuk Rusia, Iran meminta sumbangan tenaga tentara untuk membantu evakuasi korban-korban yang berjatuhan di negeri Persia.

Itu baru Iran,mari kita kembali mundur pada tahun sebelumnya, 1945, saat dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki di bom atom oleh Amerika. Jepang pada saat itu hampir menjadi binasa, luluh lantak menjelma menjadi kota mati nan berbahaya.Namun, itu tak lama, ada satu keputusan penting di saat genting yang menentukan. Pemerintah Jepang pada saat itu berhasil memetakan dan membuat daftar berapa banyak guru dan insinyur yang selamat di seluruh penjuru negeri. Dari pemetaan inilah, Jepang berhasil bangkit dan berubah menjadi macan Asia.

Jepang dan Iran, adalah sedikit contoh negara yang berhasil dengan cepat memetakan akar permasalahan negaranya, mendefiniskan kebutuhan negaranya, yang kelak menyelamatkan bangsa dan generasinya di kemudian hari. Mereka begitu sigap mencari tahu dan mengetahui, kemudian melaksanakan, apa yang benar-benar mereka butuhkan untuk menyelamatkan dan mempertahankan diri.

Indonesia? Jangan di tanya. bukan berarti saya tidak cinta negeri ini dengan segala kekayaan alam yang Allah anugerahkan. Namun miris, melihat kasus lumpur lapindo yang tak kunjung terselesaikan, kasus kecelakaan penerbangan yang makin rumit, dan kasus-kasus kebobrokan birokrasi yang makin menyakitkan. Permasalahan lainnya pun berujung gamang. Berakhir pada satu kata yang tak kunjung terselesaikan.

Jangankan untuk masalah seperti di atas, untuk masalah dasar saja Indonesia masih belum jelas. Pancasila memang menjadi dasar utama secara de jure. Namun nyaris tanpa identitas yang pasti dalam pelaksanaanya. Indonesia adalah negara ‘bukan-bukan’. bukan liberal, juga bukan komunis. bukan demokrasi, juga bukan otoriter. negara islam bukan, negara pancasila bukan, negara tirani juga bukan. Jika zaman Soekarno menerapkan demokrasi terpimpin, Soeharto lalu mengubahnya menjadi demokrasi pancasila. Lalu Habibie, Gusdur, Megawati, sampai SBY malah berputar haluan ke arah demokrasi liberal.

Selama ini Indonesia merasa ‘nyaman’ terkungkung oleh dominasi negara adidaya. Sistem ekonomi yang berhamba pada kedigdayaan pasar ternyata menimbun masalah yang luar biasa besar. Sistem ini telah membenamkan kedaulatan yang sebenarnya. Sistem yang meletakkan dasar perhatian pada tidak berfungsinya negara. Negara ada untuk menjamah kebutuhan-kebutuhan primer para pemegang modal.Rakyat menjadi kumpulan manusia yang punya potensi namun di cekik oleh kebijakan keji dan hidup dalam pertarungan sistem yang jahat. Sebuah sistem yang menjadi berhala. Celakanya, sistem ini kemudian diterjemahkan dalam berbagai produk hukum yang pada intinya melindungi kekuatan ekonomi raksasa.

Ya, Negara ini selalu kehilangan kemampuan untuk memutuskan lingkaran setan yang mengepung dan melumpuhkan hak hidup rakyat. Negara ini kehilangan kemampuan untuk memutuskan apa yang sejatinya di raih oleh sebuah negara. Negara kita GAGAL memetakan masalah dan mendefiniskan akar masalahnya untuk di carikan solusinya secara cepat dan tepat. Negara kita sudah sakit stadium empat. Namun Lebih Cepat Lebih Baik untuk meLanjutkan penindasan Wong Cilik terus di langsungkan. Kata-kata berhuruf tebal itu hanya sebatas jargon yang memanaskan persaingan untuk merebut kekuasaan.

Tidak seharusnya kita terjebak pada situasi demikian dan menghamba pada sistem kadaluarsa yang ditinggalkan penjajah Barat. Negara ini memiliki mayoritas penduduk beragama Islam. Sebuah agama yang mengajarkan bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, sebuah agama yang mengikrarkan sebagai umat terbaik di bumi, dan sebuah agama yang memiliki kesempurnaan dalam memberikan jawaban solutif atas problematika manusia yang ada. Sebuah agama paripurna yang di dalamnya memiliki satu paket sistem kehidupan,mengatur semua aspek dengan segala aturan praktisnya.

Mampukah kita memetakan kegagalan negara kita dan mendefinisikan solusinya? Khilafah Jawabannya.

“Dan itulah kemenangan yang besar.” (TQS.at-Taubah:111)

  1. Juni 24, 2009 pukul 19:35 | #1

    setuju eih,setuju banget. parah banget nih bangsa. maka gak salah klo ada yg kasih solusi untuk kembali ke Islam. karena apalagi klo bukan Islam. Apa demokrasi? emang ada yg namanya negara demokrasi di dunia ini?
    ngapain sih kita suka banget nyimpen sampah. mbok ya dibuang aja sekalian tuh sampah.

  2. Juni 25, 2009 pukul 19:35 | #2

    ngeliat contoh. itu kan karena di negara tersebut bencana langsung dianggepin. lha kalo di sini bencana dibiarin… paling cuma diberitain. iya tho?

  3. Juni 26, 2009 pukul 19:35 | #3

    sumpah… artikelnya selalu keren, neng.
    btw, anti dapet blog award dari saya… mohon diterima… klik di http://dhila13.wordpress.com/2009/06/26/awards/

    jzk

  4. Muhammad Hanif Ramadhan
    Juni 27, 2009 pukul 19:35 | #4

    saya juga berfikir seperti itu. rasanya jika bertanya pada hati kecil ini, dari ke-3 kandidat tersebut belum ada yang mewakili sebagai pilihan yang tepat.. . .hufhh..

  5. abigembul
    Juli 4, 2009 pukul 19:35 | #5

    Negara ini akan semakin parah lw mreka (pra pemimpin) negeri ini g mnrapkan hukum Alloh scra kaffah…

  1. Belum ada trackback.